By: Poppy Firzani Arifin adalah seorang peneliti di Stem Cell and
Cancer Institute.
Di Indonesia ,kanker serviks,(disebut juga
dengan kanker leher rahim) merupakan kanker penyebab kematian nomor satu bagi perempuan dan jumlah penderitanya menempati urutan
kedua setelah kanker payudara. Kanker serviks disebabkan olehHuman Papiloma Virus. Kanker ini dapat dicegah dengan
melakukan pemeriksaan rutin sehingga .jika ditemui adanya kelainan bisa segera
ditangani.
Deteksi dini untuk mencegah kanker serviks
dikenal denganpap smear yang biasanya dilakukan tiap 1-2 kali
setahun.Seiring dengan kemajuan di bidang kedokteran pemeriksaan papsmear dapat dilakukan hingga 3 tahun
sekali. Metode baru ini dikenal dengan Liquid Based Cytologi (LBC); Pemeriksaan Sitologi (Sel)
Berbasis Cairan yang dikombinasikan dengan
pemeriksaan Human Papilloma Virus (HPV).
Pada pap smear yang merupakan pemeriksaan sitologi konvensional, sampel yang
berasal dari lendir leher rahim,disapukan secara langsung ke
kaca obyek untuk diamati di bawah mikroskop. Sayangnya pada metode ini
kemungkinan sel sel yang terbuang sangat besar,karena sebagian sel dapat
tertinggal pada sikat yang digunakan pada pengambilan sampel.
Sedangkan pada pemeriksaan LBC,sampel
dikumpulkan dalam botol yang berisi cairan khusus sehingga tidak ada sel-sel
yang terbuang (lihat gambar). Setelah itu baru dilakukan pemeriksaan di bawah
mikroskop oleh ahli patologi anatomi. Penelitian membuktikan, LBC memiliki sensitivitas
(keakuratan) 60%-80%, lebih tinggi daripada pap smear konvensional yang
sensitivitasnya 56%.
Pada waktu yang bersamaan dengan test LBC
dapat dilakukan pengujian HPV DNA Genotyping untuk
mendeteksi adanya infeksi HPV beserta sub type nya. Ada beberapa subtype
HPV misalnya saja sub type 16, 18, 31, dan 45 memiliki risiko tinggi untuk
menjadi kanker serviks. Pemeriksaan HPV ini diperlukan terutama jika dari
hasil pemeriksaan sitologi ditemui adanya kelainan.yang tidak dapat disimpulkan
apakah kelainan tersebut pra-kanker atau bukan. Pemeriksaan HPV-DNA dapat
memprediksi apakah kelainan yang ditemukan akan berkembang menjadi kanker atau
tidak sehingga dapat dilakukan penanganan yang tepat.
National Comprehensive Cancer Network dan American College of Obstericians and Gynecologist menyarankan perempuan di atas 30 tahun untuk melakukan tes LBC/HPV
karena memberikan sensitivitas yang maksimal. Perempuan yang memiliki
hasil tes negatif pada kedua pengujian ini baru perlu memeriksakan diri lagi
setelah 3 tahun.
JENIS TEST
|
SENSITIVITAS
|
Pap Smear Konvensional
|
56%
|
LBC
|
60-80%
|
HPV
|
95%
|
LBC+HPV
|
99,9%
|
Tabel 1. Sensitivitas Berbagai Test
Deteksi Kanker Serviks
Syarat-syarat yang diperlukan untuk melakukan
pemeriksaan LBC/HPV
1. Tidak sedang masa menstruasi (idealnya 2
minggu sejak hari pertama menstruasi terakhir)
2. Tidak melakukan aktivitas seksual selama 48
jam sebelumnya
3. Tidak menggunakan sabun pembilas vagina
,tampon ataupun obat suppotoria.
Proses pemeriksaan mengikuti SOP (Standard
Operating Procedure) yang ditetapkan oleh dokter. Sampel yang berasal
dari lendir leher rahim akan diambil dengan menggunakan sikat halus, lalu
sampel tersebut dimasukkan ke dalam vial berisi cairan agar sel terjaga dalam
kondisi baik. Prosedur ini berlangsung cepat (5-10 menit) dan tidak
menimbulkan rasa nyeri.
Ayo lakukan deteksi dini kanker serviks!!
Mencegah lebih baik daripada mengobati.
DAFTAR PUSTAKA:
1. http://www.herc.ox.ac.uk/research/lbchpv
2.http://www.thelancet.com/journals/lanonc/article/
PIIS1470-2045%2809%2970156-1/abstract
Tidak ada komentar:
Posting Komentar