Minggu, 22 Maret 2015

METODE BARU DETEKSI DINI KANKER SERVIKS


METODE BARU DETEKSI DINI KANKER SERVIKS




By: Poppy Firzani Arifin adalah seorang peneliti di Stem Cell and Cancer Institute.


Di Indonesia ,kanker serviks,(disebut juga dengan kanker leher rahim) merupakan kanker penyebab kematian nomor satu bagi perempuan dan jumlah penderitanya menempati urutan kedua setelah kanker payudara.  Kanker serviks disebabkan olehHuman Papiloma Virus.  Kanker ini dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan rutin sehingga .jika ditemui adanya kelainan bisa segera ditangani.
Deteksi dini untuk mencegah kanker serviks dikenal denganpap smear yang biasanya dilakukan tiap 1-2 kali setahun.Seiring dengan kemajuan di bidang kedokteran pemeriksaan papsmear dapat dilakukan hingga 3 tahun sekali.  Metode baru ini dikenal dengan Liquid Based Cytologi (LBC); Pemeriksaan Sitologi  (Sel) Berbasis Cairan yang dikombinasikan dengan pemeriksaan Human Papilloma Virus (HPV).
Pada pap smear yang merupakan pemeriksaan sitologi konvensional, sampel yang berasal dari lendir leher rahim,disapukan secara langsung ke kaca obyek untuk diamati di bawah mikroskop.  Sayangnya pada metode ini kemungkinan sel sel yang terbuang sangat besar,karena sebagian sel dapat tertinggal pada sikat yang digunakan pada pengambilan sampel.
Sedangkan pada pemeriksaan LBC,sampel dikumpulkan dalam botol yang berisi cairan khusus sehingga tidak ada sel-sel yang terbuang (lihat gambar). Setelah itu baru dilakukan pemeriksaan di bawah mikroskop oleh ahli patologi anatomi. Penelitian membuktikan, LBC memiliki sensitivitas (keakuratan) 60%-80%, lebih tinggi daripada pap smear konvensional yang sensitivitasnya 56%.


Pada waktu yang bersamaan dengan test LBC dapat dilakukan pengujian HPV DNA Genotyping untuk mendeteksi adanya infeksi HPV beserta sub type nya.  Ada beberapa subtype HPV misalnya saja sub type 16, 18, 31, dan 45 memiliki risiko tinggi untuk menjadi kanker serviks.  Pemeriksaan HPV ini diperlukan terutama jika dari hasil pemeriksaan sitologi ditemui adanya kelainan.yang tidak dapat disimpulkan apakah kelainan tersebut pra-kanker atau bukan.  Pemeriksaan HPV-DNA dapat memprediksi apakah kelainan yang ditemukan akan berkembang menjadi kanker atau tidak sehingga dapat dilakukan penanganan yang tepat.
National Comprehensive Cancer Network dan American College of Obstericians and Gynecologist menyarankan perempuan di atas 30 tahun untuk melakukan tes LBC/HPV karena memberikan sensitivitas yang maksimal.  Perempuan yang memiliki hasil tes negatif pada kedua pengujian ini baru perlu memeriksakan diri lagi setelah 3 tahun.


 JENIS TEST


SENSITIVITAS

Pap Smear Konvensional
56%
LBC
60-80%
HPV
95%
LBC+HPV
99,9%
Tabel 1. Sensitivitas  Berbagai Test Deteksi Kanker Serviks

Syarat-syarat yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan LBC/HPV
1. Tidak sedang masa menstruasi (idealnya 2 minggu sejak hari pertama menstruasi terakhir)
2. Tidak melakukan aktivitas seksual selama 48 jam sebelumnya
3. Tidak menggunakan sabun pembilas vagina ,tampon ataupun obat suppotoria.
Proses pemeriksaan mengikuti SOP (Standard Operating Procedure) yang ditetapkan oleh dokter.  Sampel yang berasal dari lendir leher rahim akan diambil dengan menggunakan sikat halus, lalu sampel tersebut dimasukkan ke dalam vial berisi cairan agar sel terjaga dalam kondisi baik.  Prosedur ini berlangsung cepat (5-10 menit) dan tidak menimbulkan rasa nyeri.
Ayo lakukan deteksi dini kanker serviks!! Mencegah lebih baik daripada mengobati.

DAFTAR PUSTAKA:
1. http://www.herc.ox.ac.uk/research/lbchpv
2.http://www.thelancet.com/journals/lanonc/article/ PIIS1470-2045%2809%2970156-1/abstract